Kasus obesitas siswa

Asupan protein merupakan faktor protektif, disini asupan protein digunakan sebagai energi. Nitrogen dikeluarkan dari tubuh dan sisa-sisa ikatan karbon akan diubah menjadi lemak dan disimpan di dalam tubuh.

Karena kolesterol yang mengendap lama-kelamaan akan menghambat aliran darah dan oksigen sehingga menggangu metabolisme sel otot jantung. Zulfa F. Sarapan sering disepelekan untuk beberapa alasan. Hal ini karena setiap mengerjakan tugas kelompok, subjek pasti pergi ke tempat-tempat yang menyediakan aneka jenis fast food seperti di KFC dan Mc Donald.

Hal ini dapat dilihat dari presensi Septiana yang tidak pernah membolos dan selalu masuk sekolah. Berdasarkan hal-hal yang dipaparkan di atas, dapat ditarik kesimpulan yang terjadi pada diri klien disebabkan oleh: Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada remaja sama dalam keluarga.

Remaja yang tidak aktif memiliki kebiasaan hanya duduk diam di rumah sepulang sekolah tanpa melakukan kegiatan yang lain. Remaja belum sepenuhnya matang dan cepat sekali terpengaruh oleh lingkungan.

Tetapi faktor lingkungan juga memiliki pengaruh besar, yang mencakup perilaku gaya hidup seperti asupan makan seseorang dan tingkat aktivitas fisik yang dilakukan Beberapa penelitian epidemiologi menyebutkan bahwa obesitas pada remaja terjadi karena interaksi antara makan yang banyak dan sedikit aktivitas.

Serta tidak mudah menyerah bila mengalami kesulitan belajar. Simpulan Masalah yang dihadapi siswa dalam kasus ini adalah lambat belajar dan terlalu manja karena siswa kurang mendapatkan bimbingan belajar, siswa terlalu dimanja oleh kedua orang tuanya.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN OBESITAS

Tak dapat dimungkiri, junk food telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat di Indonesia. Tingginya konsumsi karbohidrat disebabkan sebagian sampel penelitian mengkonsumsi makanan tinggi karbohidrat pada jam istirahat jajan seperti nasi goreng, cilok, batagor, mie ayam, bakso, dan siomay.

Faktor genetik status obesitas ibu dan ayah Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki ayah dan ibu dengan status obesitas berisiko lebih besar menjadi obesitas dibandingkan dengan remaja yang memiliki ayah dan ibu yang tidak obesitas.

Untuk mengetahui apa defenisi dari obesitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada remaja Obesitas dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Aktivitas fisik Tingkat aktivitas remaja obesitas lebih rendah bila dibandingkan dengan remaja non-obesitas.

Aktivitas fisik diperlukan untuk membakar energi dalam tubuh! Padahal junk food banyak mengandung sodium, lemak jenuh dan kolesterol. Remaja rentan akan risiko obesitas sebaiknya diberi edukasi dengan media yaitu untuk memperbaiki asupan makanan khususnya asupan energi dengan memperhatikan keseimbangan asupan zat gizi protein, lemak dan karbohidrat.

Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Dalam studi kasus ini pendekatan atau cara yang digunakan dalam rangka pengumpulan data tentang siswa yang bermasalah ialah sebagai berikut: Orang-orang yang kurang aktif membutuhkan kalori dalam jumlah sedikit dibandingkan orang dengan aktivitas tinggi.

Studi genetik terbaru telah mengidentifikasi adanya mutasi gen yang mendasari obesitas. Berdasarkan hasil wawancara, remaja obesitas rata-rata mengkonsumsi sumber protein seperti tempe kedelai sebanyak x setiap hari, tahu kedelai sebanyak 2x setiap hari, ayam 2x setiap hari, telur ayam ras 1x setiap hari, ikan segar, abon, daging sapi, susu, dan keju.

Subjek yang tidak sarapan umumnya hanya minum susu atau teh, makan roti tawar, dan ada juga yang tidak makan sama sekali.Kesimpulan: Siswa sudah memiliki persepsi yang benar mengenai berat badan mereka, penyebab obesitas, dan efek psikologis yang menyertai obesitas.

Namun, persepsi siswa mengenai ancaman penyakit yang menyertai obesitas masih kurang tepat karena remaja lebih mementingkan penampilan daripada kesehatan.

Dalam penyusunan studi kasus, identifikasi siswa yang berkasus (klien) merupakan tahap awal yang harus dilalui di dalam proses penyusunan studi kasus. Siswa yang mempunyai asupan berlebih mempunyai kemungkinan untuk obesitas 6,9 kali lebih tinggi daripada siswa dengan asupan energi baik (10) Asupan protein Asupan protein yang lebih pada kelompok nonobesitas ditemukan lebih tinggi dibandingkan kelompok obesitas.

Hasil analisis menunjukkan asupan protein bukan merupakan faktor risiko terjadinya obesitas. Asupan protein. Find what you need on lawsonforstatesenate.com News, gossip, sports - whatever you.

memiliki ibu dan ayah dengan status obesitas, serta tidak sarapan, berisiko lebih terhadap terjadinya obesitas. penelitian seluruh siswa obesitas yang mengalami feeling of inferiority berjumlah 14 orang.

Alat pengumpul Alat pengumpul data menggunakan Angket dan wawancara.

Kasus obesitas siswa
Rated 5/5 based on 31 review